Kamu.. Sudah tibakah disana? Ditempat peraduanmu?
Aku tetap termangu diiringi syahdu alunan yang sempat kau sisipkan..
Menanti kabar kepastian agar tak gundah hati..
Alunan itu malah membuatku makin merasa benar- benar sendiri..
Benar- benar tak ada lagi yang akan menemaniku dikala ku jenuh menanti kepastian masa depanku..
Benar- benar tak ada lagi orang yang bisa mengiringku memecah jenuh itu..
Benar- benar tak ada lagi orang yang membuatku mandi pagi dan jadi wanita sesungguhnya..
Kepulanganmu kali ini begitu berkesan.. Begitu melekat,kamu..
Kai benar- benar hadir disaat kubutuh genggaman.. disaat ku butuh dekapan hangat.. disaat kubutuh ditepuk bahu agar aku tak menyerah.. agar aku dewasa sesuai usiaku..
Kamu...
Aku rindu kamu..
Belum 48 jam tanpamu, tapi terasa berat.. Mungkin terdengar terlalu syahdu.. Tapi ini benar merindu..
Disini kini ku merasa sepi, benar sendiri..
Mungkin tetesan ini takkan tumpah saat kau dengar suaraku, karena aku mau seperti kamu, mau kuat.. Bukankah itu yang kau ajarkan?
Tapi setelahnya, aku pasrah.. Bahkan sering ku duduk di kursi mu, lalu kulakukan hal-hal yang seperti kau lakukann.. Bahkan jaket itu, masih kusimpan dengan rapi, masih dengan bau mu.. Atau malah kejutan itu, masih mendingin di kotak karena memang tak ingin ku kudap..
Ahhhhhhhh... aku merindumu.. benar merindumu..
Rasa ini terlalu lugu.. Tak bisa ku dekap walau hanya dalam hati..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar